Pendidikan
adalah pusat perubahan konstruktif di dunia saat ini. Hal ini sejalan dengan
pendapat Jhon Dewey (Fakih, 2008) bahwa pendidikan adalah proses pembentukan
pendapat fundamental, bersifat intelektual dan emosional tentang alam dan
manusia. Freire (1984) beranggapan bahwa seseorang diharapkan mampu
mengembangkan kemampuannya untuk melihat tantangan-tantangan dari zamannya
serta mampu menumbuhkan kesadaran kritis pada masyarakat melalui pendidikan.
Pun Tjokroaminoto dalam bukunya yang berjudul Moeslim Nationaal Onderwijs
(1925) mengatakan bahwa pendidikan harus mengantarkan manusia pada kemerdekaan,
menanamkan keberanian yang luhur, menanamkan
benih peri kebatinan yang halus, Menanam benih kehidupan yang shaleh,
dan menanamkan rasa kecintaan
terhadap tanah tumpah darah.
Paradigma
pendidikan universal mesti di-Indonesia-kan dengan desain keindonesiaan yang
didasari dengan landasan filosofi kebangsaan. Hal ini adalah wajar karena
kerangka bernegara dan berbangsa setiap nations
state berbeda. Dalam konteks keindonesiaan, buah pemikiran dari tokoh yang
terakhir saya sebutkan sebelumnya merupakan salah satu cara pandang utama dan
pertama tentang pendidikan di Indonesia yang wajib kita ketahui. Bagaimana
sumbangsih pemikiran Tjokroaminoto terhadap pendidikan di Indonesia secara umum
dan Universitas Cokroaminoto Palopo secara khusus? Mungkin pertanyaan ini yang
kita jawab bersama.
Pendidikan
Ala Tjokroaminoto
Sebelum
lebih dalam berbicara tentang pemikiran Tjokroaminoto, alangkah tepatnya
berkenalan siapa itu Tjokroaminoto karena faktor kesejarahan yang dialami Tjokroaminoto
yang membentuk corak pemikirannya.
Ia
di lahirkan dengan nama Raden Mas Oemar Said Tjokroaminoto yang dikenal sebagai
Haji Oemar Said (HOS) Tjokroaminoto. Terlahir dari perpaduan keluarga priyayi
yang religius. Tjokroaminoto adalah anak kedua dari 12 bersaudara. Kakeknya, RM
Adipati Tjokronegoro adalah seorang bupati di ponorogo, jawa timur, sedangkan
ayahnya, Raden Mas Tjokroamiseno adalah wedana distrik kleco, madiun. Ia secara
formal tak pernah nyantri, sekolah ditempuhnya dengan sistem pendidikan barat.
Karena itu, ia menguasai bahasa inggris dan belanda. Di dalam
ensiklopedi islam disebutkan bahwasannya HOS Tjokroaminoto lahir di Bukur,
Madiun 16 Agustus 1882.
Pendidikan
dasarnya ditempuh di madiun, di sekolah Belanda. Kemudian pendidikan lanjutnya
ia tempuh di OSVIA (opleiding school voor inlandsche ambtenaren “sekolah
pendidikan untuk pegawai pribumi”) di magelang (1902). Setelah lulus dari
OSVIA, Pada tahun 1902 sampai 1905 Tjokroaminoto menjadi juru tulis patih di
ngawi (jawa timur), kemudian menjadi patih (pejabat dalam lingkungan pegawai
negara pribumi), pembantu utama pada seorang bupati (regent). Sambil bekerja,
Tjokroaminoto masih menyempatkan diri untuk mengikuti sekolah lanjutan di sore
hari, yaitu di BAS (Burgerlijke Avond School). Sesudah menyelesaikan
pendidikannya, HOS tjokroaminoto mendapat pekerjaan pada sebuah pabrik gula
(1907-1912) dan menulis di harian bintang surabaya.
Sebenarnya
secara formal Tjokroaminoto tidak pernah nyantri, sehingga pemahaman dia
tentang agama islam sangatlah kurang, berdasarkan referensi yang penulis baca
dan temukan bahwasannya Tjokroaminoto secara tidak langsung belajar Islam
sewaktu dia bergabung dengan Sarekat Islam. Memang Sikap atau corak yang
dimiliki oleh Tjokroaminoto tentang keberaniannya tidak dapat diragukan lagi.
Dan dengan bekal keberaniannya inilah dia dikagumi oleh masyarakat.
Tjokroaminoto
adalah seorang demagoog yang bisa memainkan perasaan dan tingkah laku
pendengarnya. Hadirin akan bergantung dibibirnya apabila mendengar ia
berpidato. Dan menjaga keseimbangan di antara mereka yang berselisih pendapat
adalah salah satu kelihaiannya. Dapat disimpulkan bahwasannya Tjokroaminoto
sangat pandai dan lihai dalam berpidato, dan tidak kalah hebatnya tulisannya
juga sangat banyak dalam berbagai buku atau artikel, salah satunya yaitu Fadjar
Asia, yang banyak memuat artikel-artikel Tjokroaminoto. Adapun karya monumental
Tjokroaminoto yang sampai masa tahun 1950-an tidak dapat diubah adalah tafsir
program asas dan program tandhim partai syarikat islam Indonesia, diterbitkan
oleh badan pekerja PSII (Partai sarekat islam Indonesia) tahun 1954. Di
dalamnya berisi tentang arah dan gerak perlawanan partai, antara lain:
1. Bersandarkan kepada
kebersihan tauhid,
2. Bersandar kepada
ilmu, dan
3. Bersandarkan kepada
siyasah (politik) yang berkaitan dengan bangsa dan tumpah darah.
Pemikiran
H.O.S. Tjokroaminoto mengandung nilai-nilai kebangsaan yang muaranya digunakan
untuk melawan penindasan Kolonial Belanda bersama para tokoh perjuangan yang
lain. Nilai-nilai kebangsaan ditekankan melalui jalur pendidikan. Tjokroaminoto
ternyata guru para pendiri bangsa2 karena tanpa disadari beliau adalah guru
dari Soekarno, Soekarmadji Marijan Kartosoewirjo, Moenawar Musso, dan tokoh
yang lain.
Pelaksanaan
pendidikan dan pengajaran kebangsaan bertujuan untuk menanamkan cita-cita
demokrasi sebagai benih sumber cita-cita perjuangan dalam usaha mengangkat
derajat dan martabat bangsa, menanamkan prinsip-prinsip keberanian yang
bersifat luhur, ikhlas, kesetiaan dan kecintaan kepada yang benar, menanamkan
sifat-sifat budi pekerti yang halus dan tingkah laku yang menjurus kearah
terciptanya sikap sopan santun dan berperadaban tinggi, menanamkan
prinsip-prinsip hidup sederhana dan sikap saleh dalam kehidupan beragama,
bermasyarakat dan bernegara, dan menanamkan prinsip-prinsip yang menjunjung
tinggi dan menghargai derajat serta martabat bangsa sendiri, antara lain
mempelajari buku-buku karangan bangsa Indonesia sendiri, sejarah bangsa sendiri
dan lain-lain yang datang dari dan oleh kekuatan bangsa kita sendiri (Amin,
1995).
Pendidikan menurut H.O.S. Tjokroaminoto
ilmu harus diperoleh dengan akal, tetapi tidak boleh dipisahkan dari pendidikan
budi pekerti dan pendidikan rohani (Tjokroaminoto, tt). H.O.S. Tjokroaminoto
lebih jauh menganjurkan dan menitikberatkan pada keseimbangan antara ilmu agama
dan ilmu umum, dan pendidikan harus dapat mempertebal perasaan kebangsaan,
bukan sebaliknya mengagung-agungkan budaya asing dan tercerabut dari akar
budaya sendiri. Pendidikan tersebut harus bertujuan mengangkat derajat dan
martabat kemanusiaan dari setiap individu manusia (Amin, 1995).
H.O.S. Tjokroaminoto secara lebih mendetail menuangkan
ide-idenya di dalam artikel yang berjudul Muslim National Onderwijs yaitu:
Pelaksanaan pendidikan dan pengajaran harus di tanamkan cita-cita demokrasi
sebagai benih dan sumber cita-cita perjuangan dalam usaha mengangkat derajat
dan martabat bangsa; Keberanian yang bersifat luhur, ikhlas, kesetiaan dan
kecintaan kepada yang benar harus ditanamkan kepada siswa; Sifat-sifat budi
pekerti yang luhur dan tingkah laku yang menjurus kearah terciptanya sikap sopan
santun serta berperadaban tinggi harus ditanamkan kepada siswa; Hidup sederhana
dan sikap saleh dalam kehidupan beragama, bermasyarakat dan bernegara harus
ditanamkan kepada siswa; Menjunjung tinggi dan menghargai derajat serta
martabat bangsa sendiri harus ditanamkan kepada siswa; Pedidikan dan pengajaran
yang erat hubungannya dengan ras kebangsaan (nasionalisme) tidak boleh
menyebabkan anak didik terpisah dari adat istiadat dan kehidupan berbahagia dalam
pergaulan rumah tangga; Pendidikan dan pengajaran selain harus mampu memperkuat
rasa kebangsaan (nasionalisme), juga harus mampu meningkatkan kecerdasan bangsa
dan memupuk watak yang bertanggung jawab dalam kehidupan berbangsa dan
bernegara.
Keterkaitan Pendidikan ala Tjokroaminoto
dengan UNCP
Relasi kesejarahan antara Tjokroaminoto dengan UNCP tak bisa
dilepaskan atau kemudian diabaikan begitu saja. Universitas Cokroaminoto Palopo
(UNCP) yang populer dengan nama Uncokro Palopo berdiri sejak 1 Maret 1967.
Perguruan Tinggi ini pada awalnya dibina oleh Yayasan Perguruan Tinggi
Cokroaminoto Makassar berdasarkan Akte Notaris Nomor: 33 Tanggal 16 Mei 1986
oleh Notaris M.G. Ohorella, S.H. dengan nama Fakultas Keguruan dan Ilmu
Pendidikan (FKIP) Universitas Cokroaminoto Makassar filial Pinrang, yang selanjutnya
pada tanggal 24 Januari 1976 diubah menjadi Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu
Pendidikan (STKIP) Cokroaminoto Palopo berdasarkan Surat Keputusan Koordinator
Kopertis Wilayah VII Sulawesi, Maluku dan Irian Jaya Nomor: II Tahun 1976
Tanggal 24 Januari 1976. Pada tahun 1995, Yayasan Perguruan Tinggi Cokroaminoto
Palopo juga membuka Sekolah Tinggi Ilmu Pertanian (STIPER) Cokroaminoto Palopo
berdasarkan Surat Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor:
014/D/O/1995 Tanggal 23 Februari 1995. Dalam perkembangan selanjutnya, yakni
pada tahun 2005, STKIP Cokroaminoto Palopo dan STIPER Cokroaminoto Palopo
bergabung dan berubah bentuk menjadi Universitas Cokroaminoto Palopo
berdasarkan Surat Keputusan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor
95/D/O/2005 tanggal 6 Juli 2005 (http://uncp.ac.id/sejarah/).
Misi UNCP saat ini adalah menyiapkan peserta didik menjadi
anggota masyarakat yang bermoral serta memiliki kemampuan akademik dan atau
profesional yang unggul dan mampu bersaing secara nasional maupun
internasional; menemukan, mengembangkan, menciptakan karya di bidang ilmu
pengetahuan, teknologi, dan budaya, serta menyebarkan demi kepentingan ilmu
pengetahuan dan kesejahtraan umat manusia; meningkatkan kualitas dosen dan
tenaga kependidikan lainnya dalam melaksanakan berbagai program pendidikan,
penelitian dan pengabdian kepada masyarakat sesuai dengan kebutuhan pembangunan;
ikut berperan dalam meningkatkan kemajuan daerah dan bangsa melalui lulusan
yang berwawasan global, toleran, dan cinta damai (http://uncp.ac.id/profil-2/visi-dan-misi/).
Rumusan misi yang termaktub di atas jelas memperlihatkan
adanya kesesuaian tujuan pendidikan Tjokroaminoto dengan UNCP. Atau dengan kata
lain, secara sadar atau tidak UNCP telah mengiplementasikan pemikiran
Tjokroaminoto. Apakah karena faktor sejarah atau karena tuntutan dan tuntunan
zaman yang menyebabkan demikian masih perlu penelitian yang lebih lanjut.
Harapan terakhir dari penulis bahwa ajaran kebangsaan dan
pemikiran Tjokroaminoto mesti pula diajarkan di UNCP. Perlu diketahui dan
disadari bahwa Cokroaminoto ternyata guru para pendiri
bangsa ini karena tanpa disadari beliau adalah guru dari Soekarno, Soekarmadji
Marijan Kartosoewirjo, Moenawar Musso, Buya HAMKA, Agus Salim, Abdul Moeis, dan
tokoh yang lain. Dengan menerapkan pemikiran atau dengan mengajarkan pola pikir
Tjokroaminoto di UNCP, harapannya kelak dari UNCP akan lahir tokoh-tokoh bangsa
baru. Sekaligus menjadikan pemikiran Tjokroaminoto sebagai penciri utama UNCP,
seperti halnya dengan UNISMUH dengan ke-Muhammadiyah-annya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar